Bagikan ke :

LAMPUNG TIMUR — (HANDLANEWS.ID).  Semenjak postingan soal skandal Korupsi yang menyasar anggaran pemenuhan kebutuhan warga binaan di Rumah Tahanan (Rutan) Sukadana, Lampung Timur, viral di platform media sosial, netizen mulai membanjiri kolom komentar dengan deretan keluhan terkait kondisi pelayanan di rutan tersebut. Sikap netizen ini menjadi sebuah realitas pahit dari kekecewaan publik terhadap pengayoman di lingkungan Rutan Sukadana.
‎
‎Dari pengamatan yang dilakukan media ini, mayoritas komentar netizen adalah keluhan terkait biaya hidup yang tinggi di dalam Rutan Sukadana, biaya sewa kamar hingga maraknya penggunaan ponsel di kalangan warga binaan yang melibatkan oknum pegawai setempat.
‎
‎Terlebih menyangkut soal keluhan biaya hidup yang tinggi di dalam Rutan Sukadana, dimana hampir semua warga binaan disana kerap meminta kiriman uang dan pakaian secara rutin kepada pihak keluarga.
‎
‎Bahkan sumber yang diterima media ini, disebutkan jika kerabat mereka yang mendekam di Rutan Sukadana kerap menghubungi lewat WhatsApp untuk meminta kiriman uang dan pakaian. Dari pengakuannya, uang yang diminta itu untuk memenuhi kebutuhan bertahan hidup mulai dari membeli makan dan kebutuhan lainnya.
‎
‎”Kalo soal ponsel di dalam Rutan kita tidak heran, tapi kalo minta kiriman uang, keluarga kita itu selalu melalui transfer ke nomor rekening tertentu milik tahanan disana juga. Kita juga heran bagaimana akses mereka di dalam penjara itu agar bisa melakukan transaksi keuangan,” ujar sumber.
‎
Deretan keluhan dan komentar negatif dari warganet ini juga perlu menjadi bahan pertimbangan pihak Kanwil Ditjenpas Lampung, khususnya Kepala Bidang (Kabid) Perawatan, Pengamanan dan Kepatuhan Internal dalam membidik persoalan dugaan Korupsi tata kelola anggaran pemenuhan kebutuhan warga binaan tahun 2026 di Rumah Tahanan (Rutan) Kelas IIB Sukadana, Lampung Timur, yang berpotensi menimbulkan kerugian negara hingga Rp3.497.700.000.
‎
‎Alasannya sederhana, masyarakat tidak mungkin bersuara kalau tidak ada fakta yang mereka rasakan, dan kebetulan fakta itu merupakan sebuah reaksi atas aksi yang terjadi.
‎
‎Pihak Rutan Sukadana bisa saja bungkam dan menyangkal semua tudingan netizen ini, tapi gelombang yang sedang terjadi sekarang ini cepat atau lambat akan mengungkap semua fakta yang selama ini tersembunyi di balik dinginnya jeruji besi. (RED)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *