SIAPA PEDULI SARJONO ‎Angkara Murka Sang Pembawa Pelita

0
Bagikan ke :

PRINGSEWU — (Handalnews.id) Siapa tak kenal sosok Haji Sarjono, S.Pd.,M.Pd., pria yang kini di dapuk sebagai Kepala Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Pringsewu itu belakangan ramai menjadi bahan pergunjingan netizen dunia maya setelah mengintimidasi seorang juru warta karena berita dugaan Korupsi yang menyeret namanya. Sikap arogan yang ditunjukan sang Haji Sarjono, S.Pd.,M.Pd., itu semakin menyingkap bagaimana karakter asli dari sosok yang selama ini dikultuskan sebagai pembawa pelita ternyata merupakan Serigala Berbulu Domba.

‎Kepindahan Haji Sarjono, S.Pd.,M.Pd., untuk bertugas di lingkungan MAN 1 Pringsewu merupakan sebuah alaram tersendiri lantaran rekam jejak yang mengekor penuh intrik dan kontroversi. Belum lagi terkait dengan dugaan Korupsi yang sempat membuat sosok ini naik pitam.

‎Koordinator Gerakan Rakyat Anti Korupsi (GRAK) Lampung, Chaidir, menyebut jika terlepas dari bagaimana persoalan dugaan Korupsi yang membelitnya, sebagaimana diberitakan sebelumnya, setidaknya publik saat ini dapat menangkap sebuah fakta soal bagaimana  sejatinya watak asli dari seorang Haji Sarjono, S.Pd.,M.Pd., yang dirasa sangat anti kritik dan selalu merasa dirinya jauh lebih mulia serta memandang rendah orang lain.

‎”Ada sebuah persamaan yang sangat jelas dari sikap seseorang yang anti kritik dan haus validasi, yaitu selalu menganggap semua narasi negatif yang ditujukan kepada dirinya adalah sebuah fitnah. Padahal antara fitnah dan kritik memiliki perbedaan mendasar pada landasan data dan tujuan penyampaiannya. Kritik didasarkan pada fakta, objektif dan bertujuan untuk membangun atau memperbaiki kebijakan maupun tindakan. Sebaliknya, fitnah didasarkan pada kebohongan atau informasi yang direkayasa dan bertujuan untuk menyerang atau merusak reputasi seseorang,” ujarnya.

‎Menurut Chaidir, bagaimana pun bentuknya, sebuah pemberitaan selalu melalui redaksi yang menelaah sebuah informasi secara objektif dan berimbang. Hanya saja memang terkadang orang yang menjadi tokoh utama pemberitaan itu sendiri yang menutup ruang konfirmasi sehingga mempersempit ruang gerak juru warta.

‎”Masalah muncul ketika berita terbit tanpa ada klarifikasi dari sang tokoh utama, yang secara sepihak langsung di vonis sebagai fitnah dan parahnya langsung menyudutkan kerja jurnalis yang dianggap tidak profesional,” urainya.

‎Lebih lanjut dikatakan Chaidir, sikap egois dan ingin menang sendiri seperti ini, yang sedang ditampilkan oleh sosok Haji Sarjono, S.Pd.,M.Pd., dimana dia langsung kebakaran jenggot serta merasa tersudutkan dengan pemberitaan soal Korupsi yang melibatkannya.

‎”Mungkin selama ini, Haji Sarjono, S.Pd.,M.Pd., hanya mengetahui wartawan yang menyanjung dan memuji-muji dirinya maupun kinerjanya, sehingga kebiasaan itu dianggap sebagai sebuah keharusan bagi pihak lain tanpa pernah berkaca pada dirinya sendiri,” imbuhnya.

‎Chaidir menjelaskan, ketika ternyata semua realitas yang ada tidak berjalan sesuai kehendak H. Sarjono, S.Pd.,M.Pd., wajar jika akhirnya dia merasa terkejut bahkan terperangah dan membuat watak aslinya keluar untuk dengan mudahnya melakukan intimidasi kepada pihak lain bahkan terkesan membesar-besarkan dirinya sendiri.

‎”Kata-kata seperti ‘Kamu belum tahu siapa saya’ maupun diksi serupa merupakan sebuah lontaran ucapan yang mengkultuskan diri sendiri untuk menunjukan dominasi semu. Padahal kenyataannya, ditengah luasnya jagat raya ini, siapa dan apa itu Haji Sarjono, S.Pd.,M.Pd., banyak yang tidak peduli atau perlu merasa tahu tentang hal itu,” tandasnya.

‎Selain itu, perlu juga disampaikan jika dalam penerbitan naskah berita berkaitan dengan dugaan Korupsi yang membelit Haji Sarjono S.Pd.,M.Pd., awak media sudah berkali-kali coba menghubungi yang bersangkutan untuk melakukan konfirmasi, baik dengan melalui kontak WhatsApp maupun menyambangi MAN 1 Pringsewu dimana tempatnya bertugas saat ini. Namun semua upaya tersebut menemui jalan buntu. Pada prinsipnya pihak redaksional tetap membuka ruang yang luas bagi pihak-pihak berkaitan menyampaikan hak jawab maupun klarifikasi terkait pemberitaan dimaksud. (RED)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *