TEGURAN TEGAS GRAK LAMPUNG: KAKANWIL DITJENPAS LAMPUNG DIMINTA BERKACA DULU SEBELUM TUDING PIHAK LAIN

BANDAR LAMPUNG —(HANDALNEWS.ID) Pernyataan Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) Lampung yang menyoroti dugaan perilaku tak wajar dari kalangan LSM dan media, menuai bantahan keras. Koordinator Gerakan Rakyat Anti Korupsi (GRAK) Lampung, Chaidir, menilai ucapan itu klaim sepihak, tak berdasar, dan sekadar pelarian dari masalah nyata di lingkungan sendiri.
“Jangan asal mangap! Lebih baik berkaca dulu sebelum bicara. Kalau ngomong asal bunyi, kentut pun bisa berbunyi,” serang Chaidir tajam, Kamis 0(2/07/2026).
Pernyataan ini muncul menanggapi kunjungan Kakanwil beserta jajarannya ke PWI Lampung, di mana ia menyebut perlunya membedakan media yang bekerja sesuai kode etik dan yang tidak.
Chaidir menuntut penjelasan tegas: hal apa saja yang dimaksud “di luar kewajaran”? Jangan sekadar melempar tudingan tanpa bukti, sementara skandal di balik tembok penjara justru menumpuk.
“Justru jajaran Ditjenpas sendirilah yang berperilaku mencurigakan. Maraknya dugaan korupsi tata kelola anggaran di Lapas dan Rutan se-Lampung masih menguap tak terjawab. Itu fakta, bukan isu,” tegasnya.
GRAK mengaku tengah fokus menelusuri penyimpangan dana yang seharusnya untuk kebutuhan warga binaan. Banyak laporan menyebutkan kondisi di dalam sangat memprihatinkan, jauh dari layak, padahal anggaran yang digelontorkan negara nilainya sangat besar. Hal ini sudah diungkap ke publik agar mendapat perhatian serius.
Menurut Chaidir, sikap Kakanwil itu tampak seperti orang yang sedang kelimpungan dan berusaha mencari pembenaran semu. “Kalau orang mau tenggelam, ranting kering pun akan diraih demi keselamatan diri. Begitulah gambaran sikap ini,” sindirnya.
Ia mengingatkan: sebelum mengurusi etika profesi orang lain, benahi dulu etika di rumah sendiri. Pastikan setiap rupiah uang negara benar-benar sampai ke tangan warga binaan, bukan hilang entah ke mana.
“Etika tidak diajarkan dari luar, tapi dimulai dari integritas diri. Urus dulu kekacauan di pekarangan sendiri, baru berani menunjuk rumah orang lain,” pungkas Chaidir.(RED)
