Bappeda Lamsel Gasak Rp708 Juta Untuk Perjalanan Dinas

0
Bagikan ke :

LAMPUNG SELATAN — ( HANDALNEWS. ID). Di saat masyarakatnya dipaksa memaklumi keterbatasan anggaran pemerintah yang berdampak pada laju pembangunan yang melambat, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Lampung Selatan justru menunjukkan komitmen tinggi terhadap mobilitas. Bukan mobilitas pelayanan kepada masyarakat, melainkan mobilitas perjalanan dinas dengan anggaran mencapai Rp708.935.000 pada tahun 2025 lalu.

‎Anggaran fantastis ini disebut-sebut demi meningkatkan kualitas koordinasi, dan tentu saja, karena koordinasi akan terasa lebih efektif jika dilakukan sambil menikmati perjalanan keliling daerah dengan dibiayai negara dan mungkin ditemani secangkir Kopi hangat. Sementara masyarakat pelosok tampaknya diminta meningkatkan kualitas komunikasi mereka dengan jalan rusak melalui getaran suspensi kendaraan.

‎Sejumlah warga mengaku bingung dengan prioritas pembangunan. “Kami kira Bappeda itu artinya mendahulukan perencanaan pembangunan daerah yang penting. Ternyata yang didahulukan itu boarding pass,” ujar seorang warga sambil menunjuk jalan yang lebih mirip ladang uji ketahanan shockbreaker.

‎Gelombang protes terkait buruknya infrastruktur dan belum meratanya pembangunan terdengar semakin nyaring, meski sayangnya kalah volume dengan suara roda koper di bandara. Keluhan tentang jembatan rapuh, jalan berlubang dan akses terbatas seolah hanya menjadi latar belakang semacam white noise dalam simfoni perjalanan dinas.

‎Kendati kerap dinyatakan bahwa perjalanan dinas tersebut “sudah sesuai kebutuhan.” Pernyataan yang cukup menenangkan, terutama bagi mereka yang memang membutuhkan perjalanan meski bukan untuk memperbaiki jalan.

‎Pengamat kebijakan publik menilai fenomena ini sebagai bentuk “pariwisata birokrasi terselubung.” Menurutnya, ada kemungkinan besar bahwa semakin jauh jarak perjalanan dinas, semakin jauh pula jarak antara kebijakan dan realitas di lapangan.

‎Sementara itu, warga berharap suatu hari nanti ada program perjalanan dinas yang sedikit berbeda, bukan keluar daerah, melainkan masuk ke jalan-jalan desa yang selama ini terlupakan. Tanpa tiket pesawat, tanpa hotel, cukup sepatu yang kuat dan sedikit niat.

‎Hingga berita ini diturunkan, jalan-jalan di Lampung Selatan masih setia pada karakternya, berlubang, berdebu dan penuh kejutan. (Redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *