Fakta Dibalik Sidak Wabup Tanggamus, RSUD Batin Mangunang Sudah Habiskan Anggaran Rp 60 Miliar Lebih ‎

0
Bagikan ke :

TANGGAMUS ––( HANDALNEWS. ID). Inspeksi mendadak yang dilakukan Wakil Bupati Tanggamus, Agus Suranto, tidak hanya mengungkap bagaimana buruknya sanitasi yang ada di RSUD Batin Mangunang, Kota Agung. Tetapi juga mengungkap bagaimana buruknya tata kelola anggaran yang ada disana. Dari penelusuran yang dilakukan media ini diketahui jika dalam kurun tahun 2025 hingga 2026, pihak RSUD Batin Mangunang sudah menyerap anggaran hingga Rp60 miliar lebih, dimana dengan biaya sebesar itu bahkan pihak rumah sakit tidak mampu memperbaiki kualitas pelayanan yang paling mendasar.

‎Bagaimana tidak, sidak yang dilakukan wakil bupati Tanggamus itu dilakukan dalam menindaklanjuti keluhan masyarakat soal buruknya kualitas sanitasi yang ada di RSUD Batin Mangunang, dan benar saja pada momen tersebut ditemukan sejumlah fasilitas toilet yang tidak berfungsi secara optimal dengan kondisi yang sangat memprihatinkan.

‎Fakta yang terungkap dalam sidak tersebut menggelitik nalar soal bagaimana tata kelola anggaran milik RSUD Batin Mangunang selama ini, yang bahkan untuk fasilitas mendasar seperti kelayakan toilet saja pihak rumah sakit tidak mampu memberikan pelayanan optimal. Padahal dari data serapan anggaran yang ada, dalam kurun waktu tahun 2025 hingga 2026 sudah menyerap dana hingga Rp60 miliar lebih.

‎Rumah sakit yang seharusnya menjadi benteng kesehatan rakyat. Tapi di RSUD Batin Mangunang, Kota Agung, yang ada justru benteng kelalaian dan pemborosan! Kondisi fasilitasnya memalukan.

‎Kemarahan masyarakat pun meledak tak terbendung. Anton, tokoh pemuda setempat, tak ragu membongkar fakta yang selama ini disembunyikan: RS ini memang sudah terkenal jorok sejak lama, tak pernah ada perhatian serius dari pucuk pimpinan!

‎“Setiap tahun dapat dana APBD yang tak sedikit! Di mana uangnya? Dikantongi siapa? Kenapa fasilitas paling dasar saja tak bisa dibenahi? Ini bukan soal tak ada biaya, tapi soal tak ada hati nurani dan tanggung jawab!” bentak Anton mewakili jeritan rakyat.

‎Ketika tertangkap basah, Direktur RSUD Theresia Hutabarat hanya bisa tertunduk lesu, wajahnya memerah menahan malu. Tak ada jawaban meyakinkan, tak ada penjelasan masuk akal—hanya kebisuan yang bicara banyak.

‎Rakyat pun berpesan tegas: “Biarkan dia malu! Biarkan rasa malunya membakar kesadarannya, agar dia sadar jabatan ini bukan untuk menyenangkan diri sendiri, tapi untuk melayani orang sakit yang sedang menderita!”

‎Pertanyaan besar menggantung:
‎Bagaimana mungkin tempat pengobatan justru menjadi sarang kotoran dan sumber penyakit? Apakah anggaran rakyat cuma fiksi di laporan pertanggungjawaban, bukan kenyataan di lapangan? Rakyat menuntut jawaban: Uang itu ada, toiletnya rusak—berarti dananya lenyap kemana? (Halimi jaya)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *